![]() |
Hera Julia Garamina - July 19th 1994 - SMAN 3 Bandar Lampung. Med. Student-Lampung University 2012 Keep the smile. Hold the laugh. I just want to share my life with you ☺ |
” meyukai orang yang benar di waktu yang salah “. itu ungkapan yang cocok buat kita, buat lo buat gua. karena gua tau, gua itu gak boleh suka sma lo ( sebut saja R ). alhasil yang bisa gua lakuin adalah ngejauhin lo, padahal kita sahabat deket bngt tapi knp gua ngejauh. itu membuat semua orng ngerasa heran sma sikap gua. kalo ada lo pasti gua ngerasa canggung, kayak orang lain heheheh sikap gua aneh bngt ya kayak anak kecil tapi gimanalah msa suka sma sahabat sendiri. terus lamaaaaaaaaaaaaaa bngt gua sma dia gak ketemu gak komunikasi lewat mana pun. sampe pas ada kejadian temen gua sakit. gua sma temen gua yang lain ( sebut saja K ) itu ngejenguk kerumahnya setelah mesen kue ulangtahun yara. ternyata disana ada dia hmmmm canggung lagi karna udah lama gak ketemu. terus krna besoknya yara ulangtahun gua minta diteminin si K, tapi K gak bsa karna dia pulang sore. terus R menawarkan diri untuk nemenin gua dan jemput gua di kampus. terus gua bilang “oke jemput di halte jangan telat gua gak mau nunggu”. terus pas besoknya ternyata jadwal kuliah gua padet, alhasil gua pulang sore dan hp lowbet. jadi gua gak bsa ngubungin dia ternyata dia undh nunggu dihalte dari tadi kasian dia smape pake masker segala. terus gua, dia, K, dan temen-temen gua yang lain ngsih surprise yara malem hari, terus makan malem bareng terus pulang. dijalan dia bilang gni “knp lo dulu ngejauhin gua?” terus gua sempet bingung mau jawab apa, gua ngeles aja “enggak kok, cuman perasaan lo aja kali.” terus dia blng “mau gak kalo kita kayak dulu lagi?” hmm gua jawab “kayak dulu pas kapan ?” dia bilang “pas SMA, pulang bareng lagi” gua sempet bingung harus jawab apa, jantung gua deg-degan sialan dia berhasil ngambil hati gua lagi
Welcome shorthair and goodbye longhair
Kamu pernah menjadi bagian hari-hariku. Setiap malam, sebelum tidur, kuhabiskan beberapa menit untuk membaca pesan singkatmu. Tawa kecilmu, kecupan berbentuk tulisan, dan canda kita selalu membuatku tersenyum diam-diam. Perasaan ini sangat dalam, sehingga aku memilih untuk memendam.
Jatuh cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya aku lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu ternyata tak terjadi, pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti kita bisa berada di status yang lebih spesial. Aku terlalu penasaran ketika mengetahui kehadiranmu mulai mengisi kekosongan hatiku. Kebahagiaanku mulai hadir ketika kamu menyapaku lebih dulu dalam pesan singkat. Semua begitu bahagia…. dulu.
Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku? Bukankah kata teman-temanmu, kamu adalah perenung yang seringkali menangis ketika memikirkan sesuatu yang begitu dalam? Temanmu bilang, kamu melankolis, senang memendam, dan enggan bertindak banyak. Kamu lebih senang menunggu. Benarkah kamu memang menunggu? Apalagi yang kautunggu jika kausudah tahu bahwa aku mencintaimu?
Tuan, tak mungkin kautak tahu ada perasaan aneh di dadaku. Kekasihku yang belum sempat kumiliki, tak mungkin kautak memahami perjuangan yang kulakukan untukmu. Kamu ingin tahu rasanya seperti aku? Dari awal, ketika kita pertama kali berkenalan, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Senyummu adalah salah satu keteduhan yang paling ingin kulihat setiap hari. Dulu, aku berharap bisa menjadi salah satu sebab kautersenyum setiap hari, tapi ternyata harapku terlalu tinggi.
Semua telah berakhir. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu. Sudah ada seseorang yang baru, yang nampaknya jauh lebih baik dan sempurna daripada aku. Tentu saja, jika dia tak sempurna—kautak akan memilih dia menjadi satu-satunya bagimu.
Setelah tahu semua itu, apakah kamu pernah menilik sedikit saja perasaanku? Ini semua terasa aneh bagiku. Kita yang dulu sempat dekat, walaupun tak punya status apa-apa, meskipun berada dalam ketidakjelasan, tiba-tiba menjauh tanpa sebab. Aku yang terbiasa dengan sapaanmu di pesan singkat harus (terpaksa) ikhlas karena akhirnya kamu sibuk dengan kekasihmu. Aku berusaha memahami itu. Setiap hari. Setiap waktu. Aku berusaha meyakini diriku bahwa semua sudah berakhir dan aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh.
Tuan, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku
Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosakata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.
Setiap hari, setiap waktu, setiap aku melihatmu dengannya; aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun…. sampai kapan aku harus terus mencoba?
Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.
Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?
Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Seandainya kautahu perasaanku dan bisa membaca keajaiban dalam perjuanganku, mungkin kamu akan berbalik arah—memilihku sebagai tujuan. Tapi, aku hanya persinggahan, tempatmu meletakan segala kecemasan, lalu pergi tanpa janji untuk pulang.
Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu. Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika kulihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya? Bisakah kaubayangkan rasanya jadi aku yang setiap hari harus melihatmu dengannya?
Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja?
Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.
Kamu ternyata gak pernah berubah ya, hmm kamu gak pernah mau mengerti perasaan orang lain. Yang kamu pikirkan hanyalah perasaan yang kamu rasakan sekarang, kamu hanya memikirkan kebahagian kamu sekarang. Itulah yang paling aku gak suka, kamu begitu dengan mudahnya lupa jika ada sesuatu yang baru, jika ada sesuatu yang lain. Kamu memang selalu begitu, tetaplah seperti sekarang. Dengan begitu aku akan selalu ingat kalo kamu memang tak pernah baik kalo kamu memang akan selalu seperti itu sehingga aku gak perlu menangis apabila teringat tentang kamu apabila ada cerita yang terkait tentang kamu apabila ada sosokmu yang kembali muncul. Teruslah seperti itu agar aku tahu betapa bodohnya kamu yang seperti ini menyakiti perasaan orang-orang yang ternyata sangat peduli terhadap kamu. Aku tidak akan bersedih, apa gunanya aku bersedih sedangkan kamu berbahagia bersama seseorang di luar sana. Aku lelah melihatmu seperti ini….
Sedikit. Hanya sedikit yang bisa kuingat tentang kamu. Tentang kita. Cerita itu sudah aku tutup rapat-rapat. Namun nyatanya? Hatiku masih berdebar ketika mendengar namamu. Mendengar suaramu. Melihat senyummu. Bahkan terkadang…. Aku merindukanmu, di sela-sela kesibukanku.
Seharusnya, cerita itu…
(via dkecildika)
Jika semua hanya permainan, jika semua hanya berkaitan dengan yang instan, tapi mengapa kauseperti memerhatikanku dengan perhatian yang mendalam? Apabila semua hanya ilusi, mengapa kauselalu datang dan kembali ke mari? Apakah ada hal spesial yang membuatmu terus ingin berlari ke arahku? Tapi, mengenaskan juga jika sebenarnya hanya aku yang memperlakukan semuanya dengan serius. Dan, ternyata kamu memang sedang bermain-main, sedang meloncat dari satu hati ke hati lainnya.
(via/follow MOST NOTED POSTS)
It was you by schwalbenimherzen
(via photooverload)
I miss everything. I miss talking to her, hearing about her day. I miss her voice all gravelly and smoky, I miss hearing her laugh, I miss...